It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Go Set A Watchman

  

Judul Buku : Go Set A Watchman

Pengarang : Harper Lee

Penerbit     : Qanita (Mizan Group)

Halaman    : 288

Tahun         : 2015

Scout Finch (Jean Louise) telah tumbuh dewasa, dan tinggal di New York. Setahun sekali dia pulang ke Maycomb County menengok Atticus Finch, sosok ayah bijaksana dalam To Kill A Mockingbird, yang sudah beranjak tua dan rapuh. Jem, kakak Scout, sudah tiada. Bibi Alexandra masih tetap jadi “musuh” baginya, meskipun masih ada yang dirindukan Jean Louis, Henry Clinton, sahabat masa kecilnya.  

“Tidakkah kau tahu cara mendapatkan wanita, Sayang? “Wanita akan terpikat pada pria yang lihai mendekatinya, tapi pada waktu yang sama tetap menjaga jarak, kalau kau bisa menguasai trik ini. Buat mereka merasa tidak berdaya, terutama kalau kau yakin bahwa mereka sangat percaya diri. Jangan pernah meragukan dirimu dihadapan mereka, dan jangan terang-terangan mengatakan bahwa kau tidak memahami mereka.” 

Hingga pada satu peristiwa Jean Louise merasa bukan hanya Maycom County yang berubah, Atticus Finch yang dulu begitu dibanggakannya sebagai pembela kaum berkulit hitam, kini membuatnya kecewa, termasuk Henry Clinton pun demikian. Sosok ayah yang dulunya menjadi panutan yang tak pernah memandang warna kulit sebagai perbedaan, yang mengagungkan kebenaran sebagai hakim tertinggi kini seolah sirna. Jean Louis merasa sendiri. 

“Apabila ada seorang pria yang selama ini hidup sesuai nilai kebenaran – dan kau percaya pada nilai-nilai hidupnya – maka kau tak akan hanya merasa waspada saat menyadari bahwa dia ternyata membuatmu kecewa. Apabila itu terjadi, kau tak akan lagi punya apapun untuk dipercaya”

Pergolakan batin Jean Louis yang beranjak dewasa dan konflik dengan Atticus Finch menjadi “daya jual” Harper Lee di buku ini. Hal yang bisa diambil dari buku ini adalah setiap kepala bisa mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi sebuah peristiwa. Keterbatasan saya dalam mengetahui sejarah Amerika terutama mengenai isu perbedaan ras sedikit menyulitkan dalam memahami beberapa bagian dalam novel ini. Sekali lagi Harper Lee mengusik nurani kita dalam memandang perbedaan yang sebenarnya ada di sekitar kita.
“Yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, Jean Louise, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani.”

Senja dan Sepucuk Surat Cinta

Senja merona jingga di batas cakrawala
kilau keemasan cahayanya menyepuh mega nun jauh di atas sana.

sejenak kusapa senja di waktu itu
“Bolehkah kutitipkan sepucuk surat cinta?”
Senja hanya tersenyum dalam diamnya.
kuangsurkan sebuah surat berwarna merah muda kepadanya, 
dan berharap akan disampaikan kepada kekasihku disana.
“Jangan lupa besok kutunggu balasan suratnya!”,
kataku agak sedikit memaksa.

Senja sudah turun dengan sempurna,
kemilau emas di angkasa pun sudah sirna,
berganti remangnya bulan dan pendar cahaya bintang.

kulewatkan malam dengan debar di dada dan sejumput asa,
semoga kekasihku sedang membaca surat cinta yang kukirimkan kepadanya.

Langit di Ufuk timur berwarna kemerahan, pertanda pagi menjelang.
sejak semalam tak sedikitpun mata ini dapat terpejam berharap ada kabar gembira.
Sore ini akan kusambut senja dengan suka cita.

Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, senja kembali datang tepat pada waktunya. 
Seperti biasa kehadirannya selalu mempesona.
Diawali semburat warna jingga dan diakhiri kilauan warna emas hingga keremangan malam datang menggantinya.
“Apakah engkau membawa sepucuk surat cinta?”
Senja menggeleng seketika
“Apakah suratku telah sampai kepadanya?”
Anggukan lemah adalah jawaban yang kuterima.

Wajahku lalu tertunduk lemah tak berdaya
“Apakah dia sudah lupa bahwa ada aku yang selalu menantinya?” Gumamku pelan.

Kembali kulewatkan malam itu bersama debar di dada,
berharap esok atau lusa, senja datang membawa sepucuk surat cinta.

Cibinong, 26 April 2015, menjelang senja

Ahli Masjid

IMG_4079.JPG

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, cuaca memang mendung semenjak pagi, terkadang rintik hujan turun menambah muramnya hari ini. Samar-samar ku dengar masjid di dekat rumah mengumumkan bahwa ada salah satu warga di Blok A di meninggal dunia. Meskipun beda Blok dan kurang mengenal beliau tapi aku tahu karena sering bertemu di Masjid saat sholat Maghrib atau sholat Jumat.

Beliau memang sudah sepuh, di atas 80 tahun sepertinya. Tak ada tanda-tanda akan kepergiannya, yang kudengar beliau tiba-tiba pingsan dan sempat di bawa ke rumah sakit meskipun tak tertolong. Berdasarkan informasi penyebabnya karena serangan jantung. 

Karena hari Jumat maka jenazah di sholatkan di Masjid setelah sholat Jumat. Alhamdulillah hari ini Jamaah masjid cukup banyak yang ikut mensholatkan almarhum.

Dalam sambutannya pihak keluarga mengucapkan permintaan maaf apabila dalam bermasyarakat almarhum pernah menyinggung atau menyakiti perasaan para jamaah. Kemudian giliran Ustadz yang akan memimpin sholat jenazah memberikan sedikit sambutannya.

“Saudara-saudaraku, lihatlah, lihatlah, lihatlah jika kamu melihat salah seorang lelaki diantaramu senantiasa berjamaah di masjid maka saksikanlah dia akan menjadi ahli masjid. Hari ini kita menyaksikan bahwa almarhum yang senantiasa pergi ke masjid hari ini ada di sini bukan untuk sholat tapi disholatkan. kelak kitapun akan seperti almarhum, semoga ini menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita semua semoga diwafatkan dalam kondisi ahli masjid dan khusnul khotimah. Amiin.”
Entah kenapa meskipun tidak begitu mengenalnya perlahan air mataku menetes mendengar sambutan dari Ustadz. 

Kemudian dilaksanakanlah Sholat Jenazah, begitu kalimat takbir dilafazkan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Hal ini berlangsung hingga sholat Jenazah selesai.

Semoga ini menjadi pertanda bahwa almarhum meninggal dalam keadaan ahli masjid dan khusnul khotimah. Semoga juga amal beliau diterima Allah SWT serta diampuni dosa-dosanya. Amiin.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs: At Taubah:18)

Cibinong, 13 Februari 2015

Stars

Son : Mommy, how much do you love me?
Mom : Look at the stars, how they shine and glow, some of the stars died a long time ago. Still they shine in the evening skies, for you see…I love you like starlight, never dies.

Anakku

Anakku,
letakkan dulu mainanmu
duduklah sejenak di sampingku
ceritakan semua keluh dan kesahmu
ceritakan kisah sedih dan gembiramu

Anakku,
mungkin saat ini adalah waktu terbaik bagi kita 
untuk saling tersenyum dan tertawa
untuk bermain bersama-sama
untuk bercanda dengan riang gembira

Anakku,
kelak saat engkau beranjak dewasa
masa seperti ini mungkin sudah tak lagi ada
biarlah hari ini menjadi kenangan yang tersisa
hingga kelak engkau pun akan tertawa
saat mengenang kebersamaan kita

Anakku,
kejarlah asa yang selama ini kau damba
kelak ada masa engkau merasa akan terbang tinggi
tapi ingat anakku untuk tetap menginjak bumi 
karena kesanalah kita semua akan kembali

Anakku,
kelak juga ada masa dimana engkau akan terluka
saat semua harapan terasa sirna
saat semua kawan pergi entah kemana
maka tengoklah ke belakangmu
lihatlah ada aku yang selalu mendukungmu

Cibinong, 10 November 2014